• Populix

Tren E-Wallet: Solusi Kembangkan Bisnis di Era Digital

via Freepik.com


Sebagai salah satu Negara dengan populasi terbanyak, Indonesia rupanya menyimpan potensi besar dari sektor ekonomi digital. Riset Google, Termasek, dan Bain bertajuk E-conomy SEA 2019 menyebut, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$40 Miliar pada 2019. Riset tersebut juga memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia akan menyentuh angka US$ 130 Miliar pada 2025. Tidak heran, berbagai perusahaan menangkap tren ini untuk membuat layanan dompet digital atau e-wallet.


Kehadiran e-wallet juga membawa tren baru yang berkembang di masyarakat, yakni cashless society. Hanya berbekal gadget, masyarakat mampu bertransaksi dengan mudah tanpa perlu repot menyiapkan uang tunai. Tren cashless society ini pula yang mendorong pelaku bisnis bertransformasi hadirkan layanan transaksi digital.


Tidak dapat dipungkiri, kebijakan physical distancing yang berlaku selama masa pandemi ini semakin mendongkrak nilai transaksi non tunai. Transaksi non tunai semakin dipilih karena dapat meminimalisir adanya kontak fisik. Kondisi ini memicu berbagai layanan dompet digital semakin gencar melakukan promosi demi meningkatkan jumlah penggunanya.


	     Baca juga Tips Melindungi Bisnis di Masa Pandemi

Di sisi lain, jumlah transaksi non tunai tersebut dapat dipandang sebagai peluang baru bagi pelaku bisnis. Selain menunjang kebijakan physical distancing, besarnya pangsa pasar ekonomi digital juga berdampak positif pada pertumbuhan UMKM Indonesia.


Tren cashless society yang sedang berkembang di masyarakat Indonesia mendorong Populix untuk menelisik habit konsumen atau pengguna layanan e-wallet. Survei yang melibatkan lebih dari dua ribu panel riset menunjukan masyarakat Indonesia sudah familiar dengan transaksi digital ini.


Mudah, Praktis, dan Efisien


Praktis dan efisien menjadi alasan utama masyarakat mulai beralih ke dompet digital. Sebanyak 56,83% responden mengaku setuju bahwa praktis dan efiesien lah yang jadi alasan utama mengandalkan e-wallet untuk bertransaksi. Sebagian lainnya mengaku banyaknya promosi pada layanan e-wallet juga sangat mempengaruhi masyarakat memilih layanan transaksi elektronik ini.


Selain itu, sebanyak 19,66% responden juga memilih e-wallet karena kemudahannya dalam bertransaksi. Masuk akal memang, mengingat perusahaan layanan dompet digital semakin masif menggandeng mitra. Ovo mengklaim telah miliki 500.000 merchant. Ada pula GoPay yang menyatkan telah bekerja sama dengan lebih dari 300.000 merchant. Oleh karena itu, memanfaatkan mobile payment secara langsung dapat memperluas pangsa pasar bagi pelaku bisnis.


Pangsa pasar yang potensial membuat perusahaan e-commerce hingga perbankan kini berlomba hadirkan layanan dompet digital nya sendiri. Meski tergolong baru, rupanya mobile payment non bank seperti OVO dan Go-Pay lebih diminati masyarakat ketimbang fitur transaksi elektronik dari perbankan. Sebanyak 52,58% responden mengaku lebih sering memakai mobile payment ketimbang mobile banking dan internet banking.


Bisa Bayar Apa Saja!

Dompet digital pun telah merambah ke berbagai bidang usaha. Hal ini semakin memudahkan konsumen memenuhi kebutuhannya. Market research Populix menunjukan responden paling sering menggunakan dompet digital pada pada layanan pembayaran tagihan dengan presentase mencapai 35,24%. Pemenuhan kebutuhan konsumsi harian juga intens digunakan responden menggunakan Transaksi dompet digital dengan catatan sebesar 29,67%. Layanan berikutnya yang kerap digunakan responden menggunakan dompet digital ialah transaksi bisnis dengan raihan presentase 17,56%.


Layanan lainnya ialah sering digunakan responden ialah pembayaran transportasi online dengan presentase mencapai 7,61%. hadirnya layanan dompet digital yang terintegrasi dengan transportasi dan pengantaran (delivery) ini manfaatnya terasa bagi pelaku bisnis. Sebab, kedua layanan tersebut dapat secara efektif menjangkau konsumen lebih luas lagi.

Dilihat dari usia, kelompok umur 29-38 tahun lah yang paling sering memanfaatkan layanan dompet digital untuk pembayaran berbagai macam tagihan. Sementara itu, responden usia 20-an menurut riset ini jadi kelompok usia yang paling intens bertransaksi untuk kebutuhan konsumsi harian. Habit konsumen yang berbeda di tiap kelompok usia semakin menguatkan pentingnya riset pasar bagi pelaku usaha.


Perkembangan teknologi yang pesat membawa dampak yang besar pada dunia bisnis. Bila tidak bergerak cepat, esksistensi perusahaan terancam di tengah persaingan yang kencang. Bagi pelaku usaha yang adaptif, kehadiran dompet digital dapat menjadi peluang memperluas jaringan konsumen hingga mempermudah pencatatan keuangan.


logo populix.png
  • Instagram
  • LinkedIn

© 2020. All Right Reserved. Populix | Market Research & Consumer Insights

Address: Jl. Panjang No.38, RW.1, Kedoya Sel., Kec. Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11520

Phone: (021) 22587699