• Populix

Menguak Cerita para Pengguna Aplikasi Kencan di Indonesia

Kepopuleran aplikasi kencan online di Indonesia semakin terasa. Awalnya dianggap abu-abu, namun kini digandrungi. Aplikasi kencan online memberikan kemudahan bagi penggunanya untuk memilih calon pasangan lewat serangkaian fitur. Kehadiran fitur tersebut semakin mempermudah penggunanya untuk menemukan pasangan yang memiliki kecocokan satu sama lain.


Biasanya, tidak butuh waktu lama bagi pengguna aplikasi kencan online untuk membangun kedekatan. Pasalnya, kesamaan minat dapat menjadikan percakapan lebih cepat cair. Bila berjalan sesuai keinginan, pasangan yang kenal melalui aplikasi kencan online bisa berujung pada pertemuan, bahkan meresmikan hubungannya.


Besarnya minat masyarakat tanah air terdapat aplikasi kencan online mendorong Populix untuk menelaahnya melalui data. Sebagai platform penyedia data dan survei, Populix mampu mengumpulkan lebih dari 3,000 responden untuk mengetahui opini mereka soal aplikasi kencan ini. Riset ini melibatkan masyarakat Indonesia di berbagai daerah, mulai dari Jabodetabek hingga Sumatera.


Populix menggali perspektif masyarakat dari berbagai latar belakang status perkawinan untuk mengetahui pendapatnya soal aplikasi kencan. Mayoritas responden, yakni sebanyak 54,96% dengan status lajang, sebanyak 34,44% responden yang menikah, serta ada 10,61% responden yang sedang menjalin hubungan atau berpacaran.


Pertemuan responden dengan teman kencannya sebagian besar dipertemukan saat berada di bangku sekolah dengan persentase mencapai 45,59%. Sementara itu, hubungan kencan responden yang berawal dari rekan kerja menempati posisi kedua dengan raihan angka 23,22%. Rutinitas bertemu yang intens tidak jarang membuat hubungan bersama rekan kerja atau teman sekolah berubah menjadi hubungan kencan. Lain halnya dengan aplikasi kencan yang lebih memungkinkan penggunanya bertemu dengan orang asing. Meski begitu, sebanyak 14,48% responden mengaku hubungannya dengan pasangan diawali dengan pertemuan di aplikasi kencan online.


Pengguna aplikasi kencan tersebut kemudian tersebar di beberapa aplikasi. Penelusuran Populix menemukan, Tinder menjadi aplikasi kencan online yang paling sering dipakai dalam riset ini. Sebanyak 35,29% responden menyatakan diri aktif sebagai pengguna aplikasi kencan online Tinder. Lalu, aplikasi kencan asal Tiongkok bernama Tantan menyusul di posisi kedua dengan persentase mencapai 29,86%. Lalu, ada juga Beetalk yang dipilih 18,39% responden dalam riset ini.

Meski memiliki pengguna aktif aplikasi kencan yang tinggi, namun masyarakat masih dibayangi ketidakyakinan dapat menemukan pasangan lewat aplikasi kencan online ini. Separuh, lebih tepatnya 50,75% mengatakan tidak yakin dapat menemukan keberhasilan di platform online ini. Lain halnya dengan 31,94% responden yang mengaku cukup yakin menemukan pasangan di aplikasi kencan.


Lika-Liku Sebelum Match dengan Calon Pasangan

Sebelum bisa mengakses fitur chat, sebagian besar aplikasi kencan mengharuskan kedua orang harus sama-sama menyatakan tertarik satu sama lain. Proses sortir ini yang akan mempertemukan kedua orang untuk mengenal satu sama lain dengan fitur chatting.


Setiap orang punya alasan berbeda untuk men-swipe right atau menyatakan diri tertarik calon pasangan. Meski begitu, Populix menangkap kecenderungan bahwa sebagian besar memilih calon pasangan karena kesamaan agama.



Lalu, preferensi berikutnya yang menjadi pertimbangan utama responden ialah kesamaan hobi. Memiliki hobi yang sama mempermudah seseorang untuk bertukar pendapat soal hobi yang kerap digeluti. Oleh karena itu, sebanyak 21,19% responden mengaku menjadikan hobi sebagai pertimbangan utama memilih calon pasangan. Dengan selisih yang sangat tipis, pertimbangan penampilan berada di atas faktor kesamaan hobi dengan total angka mencapai 21,72%. Profile picture (penampilan) menjadi fitur dasar yang rupanya dijadikan pertimbangan oleh beberapa orang. Melalui fitur tersebut, pengguna bisa menyesuaikan seleranya dengan pengguna lain yang muncul di linimasa aplikasi kencan online tersebut.


Episode Berikutnya Pertemuan di Aplikasi Kencan

Setelah hubungan terbangun, pengguna aplikasi kencan dihadapkan pada pilihan berikutnya; bertemu secara langsung atau tetap terhubung di dunia maya saja. Survei Populix menemukan bahwa, pertemuan 57,88% pasangan masih di dunia maya saja. sementara itu, ada 42,12% responden yang memaparkan bahwa telah bertemu secara tatap muka pasangan yang match di aplikasi kencan online tersebut.

Meski telah menjaring angka pengguna yang besar di Indonesia, namun intensitas penggunaan aplikasi kencan online masih minim. Hanya ada 11,08% yang mengakses aplikasi kencan online setiap hari, sementara itu mayoritas, atau 61,66% mengakses aplikasi ini sekali dalam sebulan. Menariknya, antusiasme terhadap aplikasi kencan masih tidak terbendung di tanah air.


Orang-orang terdekat di sekitar pengguna aplikasi kencan menaruh perhatian tinggi pada aplikasi kencan online. sebanyak 43,76% responden mengaku orang-orang di sekitarnya antusias bertanya soal pertemuan pengguna dan pasangannya di aplikasi online. Di sisi lain, aplikasi ini masih mendapat penolakan dari sebagian kecil masyarakat Indonesia. ada 17,97% responden yang menceritakan dirinya ditentang oleh orang disekitar karena menggunakan aplikasi kencan online.

Meski begitu, responden riset ini menceritakan beberapa kerabatnya berhasil menjalin hubungan berkat aplikasi kencan online ini. Sebanyak 39,30% responden menyatakan mengenal pasangan yang bertemu lewat dating apps atau aplikasi kencan online.


logo populix.png
  • Instagram
  • LinkedIn

© 2020. All Right Reserved. Populix | Market Research & Consumer Insights

Address: Jl. Panjang No.38, RW.1, Kedoya Sel., Kec. Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11520

Phone: (021) 22587699