• Populix

Fenomena Binge Watching dan Persaingan Sengit layanan video on demand di Indonesia


Image: Pixabay


Beberapa tahun terakhir, istilah “Binge Watching” semakin sering kita dengar. Istilah ini populer setelah konten media digital juga semakin digandrungi masyarakat. Binge watching dicetuskan pertama kali oleh perusahaan layanan video on demand Netflix pada 2013. Binge watching sendiri merujuk pada rutinitas menonton tayangan secara terus menerus tanpa harus menekan tombol apapun pada remote.


Fenomena binge watching bisa merebak berkat adanya layanan video on demand. Sebab, menonton tayangan secara terus menerus tidak bisa terjadi di televisi karena sifatnya yang memiliki jadwal siaran dan tidak on demand.


Celah itu yang coba diambil oleh layanan video on demand dengan menyajikan konten yang bisa dinikmati kapan saja oleh penonton. Selain bisa dinikmati kapan saja, layanan video on demand juga tergolong “kaya” secara konten dengan mampu hadirkan tontonan dari berbagai negara.


Populix terdorong untuk menggali pendapat masyarakat soal layanan video on demand. Melalui survei yang melibatkan lebih dari 3000 responden, Populix mencoba memetakan habit konsumen layanan video on demand di tanah air.


Pengguna Berlangganan Semakin Tereskalasi


Menurut survei yang telah Populix selenggarakan, sebanyak lebih dari 20% responden tercatat tengah berlangganan layanan video on demand. Sementara itu, pengguna layanan video on demand ini lebih banyak diisi oleh laki-laki ketimbang perempuan.


Layanan video on demand juga mengalami lonjakan jumlah pengguna baru setelah adanya pandemi Covid-19. Riset Populix menemukan setidaknya ada 24,31% yang akhirnya memutuskan berlangganan layanan video on demand karena adanya pandemi Covid-19.


Riset Populix membuktikan, cara menonton binge watching ini disukai oleh masyarakat. Menurut data survei Populix, sebanyak 52% responden mengaku jadi tipe penonton yang kerap binge watching suatu konten.

Video on demand memang menjadi media hiburan yang diminati juga karena sifat one stop content platform. Artinya, penonton hanya memerlukan satu platform untuk menikmati beragam jenis konten atau tontonan.


Hal ini punya yang membuat pengguna merasa cukup dengan konten di layanan video on demand dan mengurangi kunjungannya ke bioskop. Berdasar riset Populix, sebanyak 42,11% merasa setuju bahwa layanan video on demand jadi alasan mengurangi kunjungan ke bioskop. Bahkan,13% responden menyatakan diri sangat setuju soal ini.


Sengitnya Persaingan Penyedia Video On Demand


Layanan video on demand yang begitu membius masyarakat Indonesia dipengaruhi pula oleh ketatnya persaingan perusahaan penyedianya. Meski begitu, persaingan itu masih dimenangkan oleh Netflix yang menurut riset ini menguasai 31% suara responden. Perusahaan yang didirikan pada 1997 itu kini telah bertransformasi menjadi raksasa di sektor layanan video on demand.


Animo masyarakat yang tinggi terhadap konten Asia menjadi layanan video on demand Viu meraih posisi kedua menurut riset Populix. Berdasarkan penelusuran Populix, Viu mendapat 17,15% suara responden. Perolehan itu kemudian diikuti oleh pemain lokal, yakni Vidio.com yang mendapat 15,29% suara responden.


Menariknya, Disney+ sudah mendapat 2,06% suara responden meski baru beroperasi di Indonesia bulan September ini. Kehadiran layanan Disney+ ini semakin mewarnai persaingan layanan video on demand di Indonesia.


Apa yang Paling Dibutuhkan Penonton?

Sebagai upaya menggaet pelanggan, penyedia layanan video on demand punya karakteristik tersendiri. Viu misalnya, layanan video on demand asal Hongkong ini fokus menghadirkan berbagai konten atau tontonan Asia. Lalu GoPlay yang mencoba peruntungan dengan membawa konten film dan serial TV asli Indonesia.


Strategi setiap perusahaan tersebut tentu untuk memenuhi ‘hasrat’ menonton para penggunanya. Namun, Riset Populix membuktikan, konten yang sesuai dengan minat pengguna jadi alasan utama seseorang berlangganan layanan video on demand. Pengguna layanan video on demand tidak membutuhkan konten yang begitu banyak, namun sesuai dengan referensinya.


Faktor yang lain menjadi alasan seseorang merogoh kocek demi menikmati layanan video on demand adalah harga yang terjangkau. Hal ini yang menurut 30% punya pengaruh besar sehingga responden mencoba mengulik layanan video on demand dengan harga yang pas di kantong masyarakat.


Harga langganan layanan video on demand di Indonesia paling rendah ada yang di bawah Rp 50 ribu per bulan. Beberapa harga layanan video on demand antara lain, Viu sebesar Rp 30 ribu per bulan, GoPlay dengan harga RP 89 ribu per bulan, HBO GO Ro 60 ribu per bulan, hingga Netflix dengan harga yang dibanderol RP 120 ribu per bulan.


Layanan video on demand merupakan salah satu jembatan bagi masyarakat dalam menikmati konten media. Praktis dan bisa diatur sesuai dengan preferensi membuat layanan video on demand begitu populer di Indonesia saat ini. Di sisi lain, potensi keuntungan perusahaan penyedia layanan video on demand di Indonesia semakin naik ke permukaan. Populix sebagai layanan penyedia data kali ini menangkap fenomena ini dengan survei dan riset akurat sehingga tren ini dapat dibuktikan dengan angka dan data.



logo populix.png
  • Instagram
  • LinkedIn

© 2020. All Right Reserved. Populix | Market Research & Consumer Insights

Address: Jl. Panjang No.38, RW.1, Kedoya Sel., Kec. Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11520

Phone: (021) 22587699