• Populix

Aplikasi Video Conference Saat Pandemi, Apa yang Berubah?

Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal dalam aspek kehidupan kita sehari-hari. Salah satunya adalah penggunaan aplikasi video conference untuk kegiatan meeting atau sekadar bertatap muka.


Aplikasi video conference menjadi aplikasi yang mengalami pertumbuhan cukup cepat di tahun 2020. Lalu, bagaimanakah perilaku pengguna aplikasi video conference selama beberapa bulan terakhir ini? Populix melakukan survey konsumen kepada pengguna aplikasi tersebut mengetahui perubahan kebiasaan terhadap penggunaan aplikasi.


Peningkatan Penggunaan Sebesar 31.7%

Aplikasi video conference sudah hadir lebih dari satu dekade tetapi penggunaanya memang cukup terbatas. Sebelum pandemi Covid-19 mewabah, para pengguna lebih banyak menggunakannya untuk kegiatan yang bersifat pribadi.


Setelah adanya pandemi Corona, rupanya terjadi perubahan perilaku konsumen yang cukup signifikan. Berdasarkan hasil survey, terjadi peningkatan penggunaan aplikasi video conference sebesar 31.7%.


Peningkatan kegiatan paling tinggi terjadi pada kegiatan belajar seperti webinar atau pembelajaran kelas online. Kegiatan ini memang cukup meningkat dalam beberapa bulan terakhir mengingat sulitnya melakukan kegiatan di luar rumah. Sehingga menggunakan aplikasi sejenis ini menjadi pilihan utama.


Laptop Jadi Gadget Favorit

Saat ini aplikasi video conference sudah bisa digunakan dalam berbagai gadget elektronik, mulai dari laptop hingga smartphone berlayar 5 inci. Tetapi dalam hal ini, responden lebih menyukai untuk menggunakan laptop dibandingkan gadget lainnya.


Tercatat 55% pengguna lebih senang menggunakan aplikasi ini dengan menggunakan laptop, 43% menggunakan smartphone. Sedangkan 2% responden lebih sering menggunakan tablet.


Hal ini mungkin lebih disebabkan laptop lebih compact dalam hal layar dan juga camera. Kebutuhan untuk melihat lawan bicara yang banyak kemungkinan menjadi alasan utama mengapa laptop menjadi gadget yang lebih populer dibandingkan lainnya.


Lantas, aplikasi yang mana sebaiknya kita gunakan?


Dari hasil survey, responden pekerja dan pelajar memiliki perbedaan pilihan. Discord menjadi aplikasi yang lebih populer dikalangan pelajar, sedangkan Google Meet dan Slack menjadi aplikasi yang populer untuk para pekerja.


1. Zoom

Nama aplikasi Zoom semakin familiar di masyarakat dan penggunanya melejit hingga menyentuh angka 300 juta pada April tahun ini. Zoom juga berada dalam urutan teratas aplikasi Online video conference pada survei konsumen yang digelar Populix.


Memiliki kapasitas hingga 1.000 partisipan, Zoom juga mampu menghasilkan kualitas video High Definition (HD) meski koneksi internet partisipan memiliki bandwith atau kapasitas internet yang rendah. Koordinasi jarak jauh semakin mudah lewat fitur share screen yang tersedia dalam Zoom.


Namun, perlu kewaspadaan lebih apabila memilih platform Zoom. Pasalnya, Zoom tidak memiliki fitur keamanan end-to-end encryption sehingga lebih rentan terkena pencurian informasi data pengguna. Durasi konferensi bagi pengguna gratis pun hanya terbatas hingga 40 menit.


2. WhatsApp

Dikenal sebagai aplikasi chatting terpopuler, pengguna WhatsApp juga melirik aplikasi ini sebagai saluran komunikasi saat Work From Home. Melalui siaran pers, WhatsApp Indonesia menyebut Pandemi Covid-19 rupanya mengeskalasi kenaikan penggunaan WhatsApp di kalangan umur 18-34 tahun sebanyak 40%.


Berdasarkan survei konsumen dari Populix, kemudahan penggunaan fitur video conference jadi alasan responden memilih WhatsApp sebagai platform video conference. Selain itu, berbagai fitur pada chat semakin menunjang penggunaan WhatsApp. Aplikasi yang satu ini cocok digunakan untuk konferensi dengan partisipan yang sedikit.


3. Skype

Skype sebenarnya telah eksis sebagai aplikasi panggilan video sejak 2004. Namun, fitur video conference baru saja rilis pada April tahun ini. Fitur yang dinamakan “Meet Now” tersebut dapat menampung partisipan sebanyak 50 orang.


Skype dinilai lebih aman karena partisipan tidak perlu mendaftarkan akun dan mengisi data pribadi untuk bergabung ke konferensi. Fitur Meet Now juga memungkinkan pengguna merekam konferensi. Meski begitu, kapasitas partisipan yang lebih kecil menjadi kekurangan aplikasi ini.


4. Google Meet

Menggelar video conference tanpa khawatir terputus karena batasan waktu? Google Meet jawabannya!. Konferensi yang digelar kerap memakan waktu yang lama, bila Zoom membatasi durasi pengguna gratisnya hanya 40 menit, Google Meet memberikan keleluasaan konferensi tanpa batas waktu.


Google Meet semakin dilirik karena berbagai fitur andalan lainnya. Salah satunya ialah fitur White Board yang memudahkan partisipan menjelaskan suatu hal. Google Meet juga terintegrasi dengan Google Calendar sehingga pengguna dapat membagikan jadwal konferensi kepada seluruh partisipan secara otomatis. Selain itu, Google Meet bisa menampung partisipan sampai 100 orang dan memiliki kualitas video dan audio yang stabil. Riset Pasar Populix terhadap Google Meet juga mengungkap 47% perusahaan menggunakan Google Meet sejak awal diberlakukannya Work From Home.


Menyongsong era new normal, pelaku bisnis perlu lebih adaptif melihat habit konsumen baru. Perubahan habit konsumen praktis terjadi karena adanya perubahan prioritas kebutuhan selama dan pasca pemberlakukan pembatasan sosial. Market research dapat menjadi cara efektif bagi pelaku usaha merumuskan kembali strategi bisnis agar selaras dengan perilaku konsumen yang baru. Melalui market research yang tepat di masa transisi ini, bisnis mampu berkembang dan dapat memaksimalkan peluang.


Pandemi tidak menghalangi roda bisnis untuk tetap berputar. Koordinasi masih dapat dilakukan meski ada keterbatasan jarak. video conference jadi cara tepat bagi pelaku bisnis untuk tetap terhubung dan menjaga bisnis agar tetap produktif. Menyesuaikan pilihan Aplikasi video conference dengan keadaan perusahaan penting agar komunikasi tetap berjalan dan bisnis tetap cuan!


logo populix.png
  • Instagram
  • LinkedIn

© 2020. All Right Reserved. Populix | Market Research & Consumer Insights

Address: Jl. Panjang No.38, RW.1, Kedoya Sel., Kec. Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11520

Phone: (021) 22587699