• Populix

5 Sektor Industri Prospektif di tengah Potensi Resesi Ekonomi Indonesia


Image via: Pixabay


Perekonomian Indonesia tengah berada di ambang krisis setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa produk domestik bruto (PDB) RI pada kuartal II-2020 minus hingga 5,32 persen. Lesunya perekonomian dalam negeri ini dirasakan oleh hampir seluruh sektor industri.


Ancaman resesi pun semakin nyata dan mengkhawatirkan. Resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang secara signifikan setidaknya selama enam bulan atau dua kuartal berturut-turut.


Kementerian Perindustrian kemudian memuat industri terdampak pada dua kategori, yakni terdampak berat dan moderat. Klasifikasi ini didapat setelah mengukur kerugian dan tingkat pertumbuhan di berbagai sektor industri.


Ada banyak industri yang masuk ke dalam kategori terdampak berat. Industri tersebut antara lain, industri otomotif; industri besi baja; industri pesawat terbang dan MRO, kereta api dan galangan kapal; industri semen; industri keramik, kaca; industri regulator, peralatan listrik, dan kabel; industri elektronika dan peralatan telekomunikasi; industri tekstil; industri mesin dan alat berat; industri mebel dan kerajinan.


Sementara itu, industri terdampak moderat diisi oleh industri petrokimia dan industri karet. Kontraksi ekonomi Indonesia ini merupakan tantangan besar bagi dunia industri untuk tetap bertahan di tengah penurunan daya beli masyarakat.


Di tengah krisis ini, sebagian kecil industri masih mampu menggeliat. Hal ini ditandai dengan kemampuan sektor tersebut untuk tumbuh. Sektor industri ini pula yang dapat mengerek perekonomian Indonesia saat ini.


1. Pertanian

Image via: Freepik


Pandemi rupanya tidak menghalangi sektor pertanian Indonesia untuk tetap tumbuh. Menurut data BPS, sektor pertanian telah mencatat pertumbuhan paling tinggi pada kuartal II-2020, yaitu sebesar 16,24 persen.


Kinerja sektor ini begitu cemerlang, diikuti oleh subsektor produk olahan pertanian. Selain itu, beberapa startup di bidang agrikultur pun juga memiliki kontribusi positif, dimana kehadiran mereka dapat memperbaiki pendapatan petani dan mendorong keberlangsungan serta daya tahan pertanian di Indonesia.


2. Jasa Pendidikan

Image via: Freepik


Penutupan sekolah sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona menjadi celah keuntungan bagi layanan penyedia jasa pendidikan. Oleh karena itu kebutuhan terhadap akses pendidikan semakin melonjak. Lonjakan ini berperan positif terhadap kinerja layanan jasa pendidikan.


Startup di bidang pendidikan dinilai menjadi solusi yang dibutuhkan masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Tidak heran, berbagai platform jasa pendidikan tengah gencar menggaet pengguna saat ini.


3. Makanan dan Minuman

Image via: Freepik


Ketidakpastian soal pandemi Covid-19 menjadikan masyarakat lebih selektif membelanjakan uangnya. Masyarakat menunda pembelian yang tidak tergolong mendesak. Sebaliknya, anggaran masyarakat lebih difokuskan pada kebutuhan harian (daily needs)¸ salah satunya makanan dan minuman.


Industri makanan dan minuman masih mampu bertahan di tengah krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19. Ketahanan industri ini dapat dibedah dengan melihat persentase perubahan konsumsi masyarakat. Menurut data BPS pada Juni 2020, subsektor bahan makanan misalnya, mendapat kenaikan konsumsi sebesar 65,8%. Sementera itu, subsektor makanan dan minuman jadi berhasil tumbuh 46,1%.


Sektor ini menjadi salah satu dari sebagian kecil industri yang tidak mengalami kontraksi selama enam bulan pertama 2020.



4. Informasi dan Komunikasi


Salah satu sektor pendorong perekonomian yang justru terus mengalami pertumbuhan adalah sektor teknologi informasi dan komunikasi. Aktivitas masyarakat yang saat ini dihabiskan di rumah berimbas pada kenaikan konsumsi informasi. Kebijakan Work From Home (WFH) yang diterapkan beberapa bulan terakhir juga membuat konsumsi internet meningkat.


Hal ini juga dibuktikan dengan melonjaknya pengguna baru layanan video on demand sejak adanya pandemi Covid-19. Riset Populix menemukan setidaknya ada 24,31% yang akhirnya memutuskan berlangganan layanan video on demand karena adanya pandemi Covid-19.



5. Kesehatan

Image via: Pixabay

Sebagai bentuk pencegahan penularan virus, masyarakat berbondong-bondong membeli produk kesehatan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar terhindar dari risiko kesehatan, termasuk penularan virus corona.


Secara langsung, hal ini berdampak pada peningkatan kebutuhan produk kesehatan di pasar. Produk kesehatan bahkan menempati urutan pertama konsumsi masyarakat yang paling dibutuhkan menurut laporan BPS pada Juni silam.


Dalam riset Populix mengenai habit masyarakat dalam menghadapi pandemi juga menemukan bahwa sebanyak 97% responden mengakui secara rutin mengenakan masker dan 87% menggunakan hand sanitizer.


Meski virus corona masih membayangi perekonomian Indonesia, mengambil celah keuntungan masih mungkin dilakukan. Masih ada beberapa sektor perekonomian yang tergolong “tahan banting” dengan kehadiran pandemi Covid-19.


Di masa seperti ini, pelaku usaha harus lebih mengandalkan data dengan melakukan riset pasar agar tetap bisa membaca peluang di masa krisis ini. Salah satu langkah tepat dan terjangkau dalam menempuh riset pasar ialah dengan mempercayakannya kepada platform market research Populix.


Populix sendiri memiliki lebih dari 95.000 responden dengan berbagai kriteria. Di platform ini, pelaku usaha bisa dengan efisien melakukan riset pasar untuk mengidentifikasi kebutuhan target pasar dari bisnis anda.


logo populix.png
  • Instagram
  • LinkedIn

© 2020. All Right Reserved. Populix | Market Research & Consumer Insights

Address: Jl. Panjang No.38, RW.1, Kedoya Sel., Kec. Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11520

Phone: (021) 22587699